Prosedur percobaan ini adalah
mula-mula jari tengah/jari manis probandus diolesi dengan alkohol 70% yang
berfungsi untuk menghindari infeksi/sebagai disinfektan dan juga sebagai
vasodilator (melebarkan pembuluh darah) sehingga darah mudah keluar, kemudian
jari tersebut ditusuk dengan jarum lanset disposable hingga darah keluar,
tetesan yang pertama dan kedua dibuang terlebih dahulu karena biasanya masih
banyak mengandung plasma darah yang nantinya dapat menggangu pengamatan dalam
pencarian sel-sel darah. Darah pada tetesan berikutnya diletakkan pada gelas
benda hingga membentuk lingkaran berdiameter + 3-5 mm kemudian gelas
benda yang lain diletakkan di muka tetesan darah lalu di tarik kebelakang
sedikit hingga kira-kira di tengah lingkaran darah sehingga timbul kapilaritas dan darah merata
ke kanan dan kiri di atas gelas benda. Sudut yang dibentuk diantara kedua gelas
benda kira-kira 45°, hal ini bertujuan supaya pada saat pengolesan membentuk
film darah dan tidak terjadi tekanan yang terlalu kuat dimana jika ini terjadi
dapat menyebabkan sel darah menjadi rusak/pecah. Setelah gelas benda kedua
sudah berada pada posisi membentuk sudut 45° langkah selanjutnya adalah
mendorongnya ke ujung gelas benda pertama dengan kecepatan dan kekuatan yang
sama sehingga akan diperoleh film darah yang tipis, rata dan tidak terputus.
Tebal tipisnya film darah sangat penting diperhatikan karena akan mempengaruhi
sitologinya. Idealnya film yang terbentuk harus mampu menunjukkan komponen-komponen
darah dengan jelas dan seharusnya tidak menunjukkan adanya tumpang tindih dari
sel-sel tersebut.
Langkah selanjutnya setelah film
terbentuk, preparat dikeringanginkan lalu difiksasi dengan metal alcohol selama
3 menit. Fiksasi bertujuan untuk mempertahankan bentuk sel-sel darah dan
mencegah terjadinya autolysis (rusaknya sel oleh enzim yang disekresikan oleh
dirinya sendiri). Dengan fiksasi aktivitas enzim akan dihentikan sehingga
pembusukan dapat dihindari. Penggunaan metal alkohol sebagai fiksatif karena
larutan ini dapat mengawetkan jaringan, daya penetrasinya cepat dan mampu
melarutkan lipid dalam sel serta tidak memerlukan pencucian secara langsung
sehingga dapat langsung diamati.
Tahap selanjutnya yaitu pewarnaan
yaitu menggunakan larutan Giemsa (metode Romanowski). Pewarna ini merupakan
pewarna spesifik untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, pewarnaan dilakukan
selama 25 menit. Pewarna ini sangat efektif digunakan karena menggunakan bahan
pelarut dari metil alkohol juga sehingga tidak perlu diadaptasikan lagi dengan
kondisi baru karena sebelumnya fiksasi menggunakan metil alkohol juga.
Pengadabtasian ini dilakukan untuk menghindarkan sel dari peristiwa`hemolisis
dan dehidrasi.
Tahap selanjutnya yaitu sediaan
dicuci dengan aquades yang telah dididihkan, hal ini bertujuan untuk
menghilangkan sisa-sisa pewarnaan. Aquades yang sudah dididihkan dapat
mematikan jamur sehingga dapat menghindari kerusakan preparat. Langkah terakhir yaitu preparat di
keringanginkan dan dilakukan pengamatan dibawah mikroskop.
Adapun sel-sel yang dapat terlihat
di bawah mikroskop adalah sebagai berikut:
1.
Sel darah merah (Eritrosit)
terlihat bening pada bagian tengahnya karena pada bagian tersebut tidak
menyerap zar warna, bagian ini disebut central pale, bentuknya bikonkaf. Sel
eritrosit terpulas warna merah muda karena mengandung banyak hemoglobin.
2.
Sel darah putih (Leukosit)
umumnya terdapat lima jenis leukosit yang dibagi menjadi 2 yaitu
-
Granulosit : Neutrofil, Eosinofil, dan basofil
-
Agranulosit : limfosit dan monosit
Pada gambar, leukosit ditunjukkan dengan sel berwarna ungu namun
sulit dibedakan jenis leukositnya. Yang paling banyak ditemukan adalah
neutrofil, dimana dalam darah manusia mencapai 40-70% dari semua leukosit yang beredar. Ciri
yang paling mencolok dari neutrofil ialah intinya berlobus banyak. Pada
Neutrofil wanita, terdapat drum stick yaitu kromososom X yang terdapat dalam
bentuk pemukul drum kecil pada salah satu lobus inti.
Leukosit yang lain yaitu eosinofil
yang mempunyai ciri-ciri berlobi 2, mempunyai sitoplasma basofil sehingga
terpulas merah, mempunyai granula spesifik dan berukuran besar. Basofil memiliki
inti besar dengan lobus yang tidak jelas, granula besar dan kasar. Basofil
merupakan leukosit yang paling langka ditemukan (< 1 %) dari jumlah leukosit
yang beredar dalam darah.
Monosit merupakan sel darah
putih terbesar. Monosit ditandai dengan inti yang besar dan eksentris, sitoplasmanya
bersifat basofil. Limfosit ciri-cirinya tidak bergranula,
merupakan sel terkecil dalam sel darah
putih, sitoplasmanya bersifat basofil. Limfosit mempunyai 2 jenis yaitu
limfosit B dan limfosit T.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar