Rabu, 27 November 2013

Pembuatan preparat Apus Darah (smear)


Resim1). Hastanın çevre kanı yayması. Trombosit büyüklüğünde çok küçük eritrositler dikkati çekmektedir. Trombosit sayısı kan sayımı cihazının sonucu ile uyumlu değil.
Prosedur percobaan ini adalah mula-mula jari tengah/jari manis probandus diolesi dengan alkohol 70% yang berfungsi untuk menghindari infeksi/sebagai disinfektan dan juga sebagai vasodilator (melebarkan pembuluh darah) sehingga darah mudah keluar, kemudian jari tersebut ditusuk dengan jarum lanset disposable hingga darah keluar, tetesan yang pertama dan kedua dibuang terlebih dahulu karena biasanya masih banyak mengandung plasma darah yang nantinya dapat menggangu pengamatan dalam pencarian sel-sel darah. Darah pada tetesan berikutnya diletakkan pada gelas benda hingga membentuk lingkaran berdiameter + 3-5 mm kemudian gelas benda yang lain diletakkan di muka tetesan darah lalu di tarik kebelakang sedikit hingga kira-kira di tengah lingkaran darah  sehingga timbul kapilaritas dan darah merata ke kanan dan kiri di atas gelas benda. Sudut yang dibentuk diantara kedua gelas benda kira-kira 45°, hal ini bertujuan supaya pada saat pengolesan membentuk film darah dan tidak terjadi tekanan yang terlalu kuat dimana jika ini terjadi dapat menyebabkan sel darah menjadi rusak/pecah. Setelah gelas benda kedua sudah berada pada posisi membentuk sudut 45° langkah selanjutnya adalah mendorongnya ke ujung gelas benda pertama dengan kecepatan dan kekuatan yang sama sehingga akan diperoleh film darah yang tipis, rata dan tidak terputus. Tebal tipisnya film darah sangat penting diperhatikan karena akan mempengaruhi sitologinya. Idealnya film yang terbentuk harus mampu menunjukkan komponen-komponen darah dengan jelas dan seharusnya tidak menunjukkan adanya tumpang tindih dari sel-sel tersebut.
Langkah selanjutnya setelah film terbentuk, preparat dikeringanginkan lalu difiksasi dengan metal alcohol selama 3 menit. Fiksasi bertujuan untuk mempertahankan bentuk sel-sel darah dan mencegah terjadinya autolysis (rusaknya sel oleh enzim yang disekresikan oleh dirinya sendiri). Dengan fiksasi aktivitas enzim akan dihentikan sehingga pembusukan dapat dihindari. Penggunaan metal alkohol sebagai fiksatif karena larutan ini dapat mengawetkan jaringan, daya penetrasinya cepat dan mampu melarutkan lipid dalam sel serta tidak memerlukan pencucian secara langsung sehingga dapat langsung diamati.
Tahap selanjutnya yaitu pewarnaan yaitu menggunakan larutan Giemsa (metode Romanowski). Pewarna ini merupakan pewarna spesifik untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, pewarnaan dilakukan selama 25 menit. Pewarna ini sangat efektif digunakan karena menggunakan bahan pelarut dari metil alkohol juga sehingga tidak perlu diadaptasikan lagi dengan kondisi baru karena sebelumnya fiksasi menggunakan metil alkohol juga. Pengadabtasian ini dilakukan untuk menghindarkan sel dari peristiwa`hemolisis dan dehidrasi.
Tahap selanjutnya yaitu sediaan dicuci dengan aquades yang telah dididihkan, hal ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa pewarnaan. Aquades yang sudah dididihkan dapat mematikan jamur sehingga dapat menghindari kerusakan preparat.  Langkah terakhir yaitu preparat di keringanginkan dan dilakukan pengamatan dibawah mikroskop.
Adapun sel-sel yang dapat terlihat di bawah mikroskop adalah sebagai berikut:
1.       Sel darah merah (Eritrosit) terlihat bening pada bagian tengahnya karena pada bagian tersebut tidak menyerap zar warna, bagian ini disebut central pale, bentuknya bikonkaf. Sel eritrosit terpulas warna merah muda karena mengandung banyak hemoglobin.
2.       Sel darah putih (Leukosit) umumnya terdapat lima jenis leukosit yang dibagi menjadi 2 yaitu
-          Granulosit   : Neutrofil, Eosinofil, dan basofil
-          Agranulosit : limfosit dan monosit
Pada gambar, leukosit  ditunjukkan dengan sel berwarna ungu namun sulit dibedakan jenis leukositnya. Yang paling banyak ditemukan adalah neutrofil, dimana dalam darah manusia mencapai   40-70% dari semua leukosit yang beredar. Ciri yang paling mencolok dari neutrofil ialah intinya berlobus banyak. Pada Neutrofil wanita, terdapat drum stick yaitu kromososom X yang terdapat dalam bentuk pemukul drum kecil pada salah satu lobus inti.
Leukosit yang lain yaitu eosinofil yang mempunyai ciri-ciri berlobi 2, mempunyai sitoplasma basofil sehingga terpulas merah, mempunyai granula spesifik dan berukuran besar. Basofil memiliki inti besar dengan lobus yang tidak jelas, granula besar dan kasar. Basofil merupakan leukosit yang paling langka ditemukan (< 1 %) dari jumlah leukosit yang beredar dalam darah.
Monosit merupakan sel darah putih terbesar. Monosit ditandai dengan inti yang besar dan eksentris, sitoplasmanya bersifat basofil. Limfosit ciri-cirinya tidak bergranula, merupakan sel terkecil dalam  sel darah putih, sitoplasmanya bersifat basofil. Limfosit mempunyai 2 jenis yaitu limfosit B dan limfosit T.
3.       Trombosit, yaitu keping darah yang bentuknya tidak beraturan, tidak berwarna, tidak berinti, dan berukuran lebih kecil dari eritrosit dan leukosit, serta mudah pecah bila tersentuh benda kasar. Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah untuk membentuk darah beku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar